Senin, 20 November 2017

KONSELING KELOMPOK TEKNIK MODELING



FEKTIVITAS LAYANAN KONSELING KELOMPOK TEKNIK MODELING UNTUK MENGURANGI PERILAKU
MEMBOLOS SISWA KELAS VIII
DI SMP NEGERI 5 PALU

I NENGAH SUBAGIA


ARTIKEL

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Tadulako








     
      


  

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
TAHUN 2015



EFEKTIVITAS LAYANAN KONSELING KELOMPOK TEKNIK
MODELING UNTUK MENGURANGI PERILAKU MEMBOLOS
SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 PALU


  I NENGAH SUBAGIA
No Stb.: A 501 10 056

SKRIPSI
Program Studi  Bimbingan dan Konseling, Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu PendidikanUniversitas Tadulako,
Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, April, 2015
Mobile HP: +6285242809737,  E-mail:


ABSTRAK

Masalah dalam penelitian ini adalah apakah perilaku membolos siswa sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan perilaku membolos siswa sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling.  Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen  dengan menggunakan one group pre-test and post-test. Subjek penelitian ini berjumlah 6 siswa terdiri dari 4 perempuan dan 2 laki-laki yang memiliki perilaku membolos. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Data Penelitian dianalisis dengan analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan menggunakan rumus wilcoxson sign rank test. Hasil yang diperoleh prosentase perilaku membolos sebesar 35%. Sedangkan  sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos sebesar 15%. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perilaku membolos sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling.


Kata Kunci : Konseling Kelompok, Teknik Modeling, Perilaku Membolos











THE EFFECTIVITY OF MODELING TECHNIQUE GROUP COUNSELING SERVICE FOR  DECREASING STUDENTS’ TRUANCY
BEHAVIOR OF CLASS VIII SMPN 5 PALU

  I NENGAH SUBAGIA
Student Number: A 501 10 056
SCRIPT
Department of Guidance and Counseling Faculty of Teachers Training and Educational Sciences Tadulako University, Palu, Central Sulawesi Province,
In the Middle Part of Indonesia, April, 2015
Mobile HP: +6285242809737, E-mail:


ABSTRACT


The problems in this research is whether the students truant behavior after given the modeling technique group counseling service is lower than before given modeling technique group counseling service. The purpose of this research is to prove the student truant behavior after the given modeling technique group counseling service is lower in compared with the before given modeling technique group counseling service. The type of this research is quasi experiment with used one group pre test and post test. The subject of this research amounted to 6 students consists of 4 woman and 2 men who have truant behavior. The data gather method in this research is observation. The data in this research was analized with descriptive analized and inferential analized by used the formula Wilcoxson sign rank test. Percentage obtained result truant behavior by 35%. Where as after given modeling technique group counseling service, the  students truant behavior by 15%. The results of this research can be conclude that student truant behavior after the given modeling technique group counseling service is lower than before given modeling technique group counseling service.


Key Words: Group Counseling Service, Modeling technique, Truant Behavior







Pendahuluan
Perilaku  membolos  merupakan  bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dengan sengaja meninggalkan pelajaran atau meninggalkan sekolah tanpa meminta izin terlebih dahulu atau tanpa keterangan. Tidak masuk  sekolah dengan alasan yang  tidak tepat  dan tanpa alasan  yang jelas. Menurut Gunarsa (2006:23) bahwa “membolos adalah pergi meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan pihak sekolah”. Menurut  M. Surya ( 2001: 55) “membolos adalah bentuk perilaku meninggalkan aktifitas yang seharusnya dilakukan dalam waktu tertentu dan tugas/peranan tertentu tanpa pemberitahuan yang jelas”. Sementara itu menurut Kun Maryati dan Jujun Suryawati (2010:51) bahwa “perilaku membolos adalah salah satu bentuk dari penyimpangan perilaku, penyimpangan itu terjadi karena adanya proses labelling ( pemberian  julukan, cap, merek yang dianggap tidak sesuai dengan norma sosial) yang diterima seseorang yang membuatnya melakukan penyimpangan”.
Dewasa  ini tidak sedikit siswa dibeberapa sekolah ditemukan memiliki perilaku membolos, Perilaku  membolos  yang  telah ditemukan berupa siswa tidak ikut  mata  pelajaran di dalam kelas tanpa keterangan yang jelas, siswa  pulang  mendahului  waktu  pulang yang ditetapkan oleh sekolah tanpa adanya keterangan  yang  jelas, siswa meminta izin ke luar kelas tapi tidak kembali lagi ke kelas, dan tidak masuk kelas setelah jam istirahat usai.
Beberapa perilaku yang ditemukan tersebut, mencermikan bahwa di SMP Negeri 5 Palu masih banyak siswanya yang memiliki perilaku membolos. Pernyataan di atas didukung dengan adanya hasil wawancara langsung yang dilakukan oleh peneliti terhadap guru bimbingan dan konseling di SMP Negeri 5 Palu pada senin 25 Agustus 2014 yang menyatakan  bahwa  banyak  siswanya yang menunjukkan perilaku membolos seperti yang telah dipaparkan di atas.
Kebiasaan membolos yang sering dilakukan oleh siswa akan berdampak negatif pada dirinya, misalnya dihukum, diskorsing, tidak dapat mengikuti  ujian, bahkan bisa dikeluarkan dari sekolah.  Selain itu, kebiasaan  membolos juga  dapat menurunkan prestasi belajar siswa tersebut.  Perilaku membolos  perlu  mendapat perhatian penuh dari berbagai pihak. Bukan hanya  pihak  sekolah  tetapi  juga  orang tua, teman dan pemerintah.  Perilaku  membolos  tidak  hanya merugikan siswa itu sendiri, namun perilaku membolos bisa menjadi sumber masalah dikalangan sekolah.
Bila perilaku ini dibiarkan terus menerus dan tidak segera ditindak lanjuti, maka orang tua dan guru di sekolah tentu juga ikut menanggung akibat  dari perilaku membolos tersebut. Oleh karena itu, penanganan terhadap  siswa  yang  memiliki  perilaku membolos perlu mendapat perhatian yang sangat serius. Dalam rangka membantu mengatasi perilaku membolos  tersebut,  maka diperlukanlah suatu layanan yakni melalui layanan bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan dan konseling mempunyai tugas dan fungsi utama untuk membantu siswa dalam menciptakan kehidupan yang efektif sehari – hari. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi perilaku membolos siswa yaitu dengan memberikan  layanan  konseling kelompok.
Prayitno (2004:105), menyatakan bahwa “layanan konseling kelompok merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok  orang  dengan mengaktifkan dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan, pribadi dan atau pemecahan masalah yang menjadi  peserta  kegiatan  kelompok.”  Dalam  layanan  konseling  kelompok ini siswa  dapat  secara leluasa untuk menyampaikan alasan penyebab perilaku  membolos.  Di samping itu,  layanan  konseling  kelompok ini dapat memberikan  ruang dan kesempatan  yang  sebesar – besarnya  kepada  siswa baik  dalam  menyampaikan  masalahnya  maupun  mengeluarkan pendapat guna  memberikan  solusi   secara bersama sebagai penyelesaian masalah yang dihadapi.
Penyelesaian  masalah  dalam  konseling  kelompok perlu pula didukung  dengan adanya suatu model (sosok positif) guna untuk memperkuat hasil penyelesaian masalah yang telah dilakukan dalam konseling kelompok.  Model yang dimaksud dapat berupa model simbolis dan atau seorang tauladan.
Istilah  modeling merupakan istilah umum untuk menunjukan terjadinya  proses  belajar  melalui  pengamatan  dari orang lain dan perubahan  yang  terjadi karena  melalui peniruan. Teknik modeling ini adalah suatu komponen dari suatu strategi di mana peneliti menyediakan demonstrasi  tentang tingkah  laku  yang  menjadi tujuan. Tujuan  penggunaan teknik  modeling  disesuaikan dengan kebutuhan ataupun permasalahan siswa, seperti untuk memperoleh  tingkah laku sosial yang lebih baik,   membantu  siswa untuk  merespon  hal-hal  yang  baru  dan untuk mengurangi  tingkah  laku  yang  tidak  sesuai  seperti perilaku  membolos.
Siswa yang sering melanggar peraturan sekolah seperti perilaku membolos, dapat diatasi melalui pemberian layanan konseling kelompok teknik modeling.  Pelaksanaan layanan konseling kelompok teknik modeling di sekolah dilakukan melalui  empat tahapan yaitu tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran, penggabungan teknik modeling dilakukan pada setiap tahapan konseling kelompok, di mana peneliti akan menampilkan model berupa model simbolis (gambar-gambar) mengenai dampak perilaku membolos dan seorang model langsung. Dalam  penggabungan tersebut  siswa diharapkan  mampu  mengamati  perilaku model yang telah ditampilkan baik melalui seorang tauladan (model langsung) maupun simbol atau gambar - gambar tersebut.   Dalam hal ini siswa berkesempatan untuk belajar perilaku baru guna mengubah perilaku membolos dengan cara mengamati model yang ditampilkan, sehingga diharapkan mampu mengurangi perilaku membolos di kalangan siswa khususnya di SMP Negeri 5 Palu.
Bertitik tolak dari uraian di atas perlu kiranya dilakukan suatu penelitian untuk mengurangi perilaku  membolos siswa, yakni menggabungkan layanan konseling kelompok dengan teknik modeling. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas Layanan Konseling Kelompok Teknik Modeling untuk Mengurangi Perilaku Membolos Siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Palu”. Oleh karena itu, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu 1) bagaimana perilaku membolos siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Palu sebelum dan sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. 2) apakah perilaku membolos siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Palu sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi perilaku membolos siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Palu sebelum dan sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. 2) Membuktikan perilaku membolos siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Palu sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling

Metodologi Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi experimen research). Penelitian eksperimen semu adalah penelitian dimana ada perlakuan terhadap variabel dependen yaitu siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Palu. Peneliti hanya mengontrol sebagian dari variabel yang berpengaruh dan masih ada variabel-variabel lain yang berpengaruh yang tidak dapat dikontrol.. Prosedur penelitian dibagi menjadi 3 tahap antara lain: 1) tahap awal, 2) tahap pelaksanaan, 3) tahap akhir. Sedangkan prosedur pelaksanaan konseling kelompok teknik modeling  yaitu meliputi langkah-langkah 1) tahap pembukaan , 2) tahap peralihan, 3) tahap kegiatan, 4) tahap pengahiran.
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Jenis data dalam penelitian ini yaitu data primer, artinya data langsung yang diperoleh dari siswa dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi aspek perilaku membolos siswa yang diberikan konseling kelompok teknik modeling, dan yang kedua adalah data sekunder, artinya data yang diperoleh dari tempat penelitian melalui wawancara kepada guru bimbingan dan konseling, guru wali kelas, dan guru mata pelajaran. Analisis data dilakukan dengan mengacu pada analisis deskriptif dan analisis inferensial. Analisis data deskriptif menggunakan rumus deskriptif persentase (Arikunto, 2007:236) dengan menggunakan pedoman kategori perilaku membolos (Sultan Bani, 1985: 22 ) sedangkan analisis inferensial menggunakan rumus rumus wilcoxon signed rank test (Djarwanto. 1999).

Hasil Penelitian
A.  Analisis Deskriptif
1)      Hasil Analisis Deskriptif Perilaku Membolos Sebelum Diberikan Layanan Konseling Kelompok Teknik Modeling

Tabel 4.1 Kategori dan Prosentase Perilaku Membolos Siswa Kelas VIII SMP Negeri 5 Palu Sebelum Diberikan Layanan Konseling Kelompok teknik Modeling
No.
Kode siswa
Jumlah skor

Prosentase (%)
Kategori Perilaku Membolos
1
MY
5
50 %
Sangat Tinggi
2
DV
3
30 %
Tinggi
3
GW
2
20%
Sedang
4
AP
5
50 %
Sangat tinggi
5
IA
3
30 %
Tinggi
6
KPA
3
30%
Tinggi 

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diperhatikan bahwa jumlah skor dan prosentase perilaku membolos masing- masing siswa yang menjadi subjek penelitian adalah  MY memiliki skor 5 dengan prosentase 50%, DV memiliki skor 3 dengan prosentase 30%, GW memiliki skor 2 dengan prosentase 20%, AP memiliki skor 5 dengan prosentase 50%, IA memiliki skor 3 dengan prosentase 30%, KPA  memiliki skor 3 dengan prosentase 30%.

2)        Hasil Analisis Deskriptif Perilaku Membolos Sesudah Diberikan Layanan Konseling Kelompok Teknik Modeling

Tabel 4.2  Kategori dan Prosentase Perilaku Membolos Siswa Kelas VIII SMP Negeri 5 Palu Sesudah diberikan Layanan Konseling Kelompok Teknik Modeling
No.
Kode siswa
Jumlah skor

Prosentase (%)
Kategori Perilaku Membolos
1
MY
2
20%
Sedang
2
DV
2
20%
Sedang
3
GW
1
10%
Rendah
4
AP
3
30%
Tinggi
5
IA
1
10%
Rendah
6
KPA
0
0%
Rendah

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diperhatikan bahwa jumlah skor dan prosentase perilaku membolos masing- masing siswa yang menjadi subjek penelitian sesudah diberikan layanan konseling  kelompok  teknik  modeling adalah  MY memiliki skor 2 dengan prosentase 20%, DV  memiliki  skor 2 dengan prosentase 20%, GW memiliki skor 1 dengan prosentase 10%, AP memiliki skor 3 kali dengan prosentase 30%, IA memiliki skor 1 dengan prosentase 10% dan KPA memiliki skor 0 dengan prosentase 0%.















3)        Deskripsi Penurunan Perilaku Membolos Siswa Kelas VIII SMP Negeri 5 Palu Sebelum dan Sesudah Diberikan Layanan Konseling Kelompok Teknik Modeling

Tabel 4.3 Deskripsi Penurunan Perilaku Membolos Siswa Kelas VIII SMP Negeri 5 Palu Sebelum dan Sesudah Diberikan  Layanan Konseling Kelompok Teknik Modeling
No
Kode Siswa
Sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik
Modeling
Sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling
Penurunan perilaku membolos
(%)
Persentase
(%)
Kategori perilaku membolos
Persentase
(%)
Kategori perilaku membolos
1
MY
50 %
Sangat Tinggi
20 %
Sedang
30%
2
DV
30 %
Tinggi
20 %
Sedang
10 %
3
GW
20 %
Sedang
10 %
Rendah
10%
4
AP
50 %
Sangat Tinggi
30 %
Tinggi
20%
5
IA
30 %
Tinggi
10 %
Rendah
20%
6
KPA
30 %
Tinggi  
0 %
Rendah  
30%

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa masing- masing subjek mengalami penurunan prosentase perilaku membolos yang berbeda-beda. MY mengalami penurunan prosentase perilaku membolos sebesar 30 % sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. DV mengalami penurunan prosentase perilaku membolos sebesar 10 % sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. GW mengalami penurunan prosentase perilaku membolos sebesar 10 % sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. AP mengalami penurunan prosentase perilaku membolos sebesar 20 % sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. IA mengalami penurunan prosentase perilaku membolos sebesar 20 % sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. KPA mengalami penurunan prosentase perilaku membolos sebesar 30% sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling.
B.                 Analisis Inferensial
Pengujian hipotesis nol dalam penelitian ini menggunakan analisis secara statistik dengan rumus wilcoxon signed rank test. Perhitungan analisis ini menggunakan tabel persiapan T wilcoxon sebagai berikut:
Tabel4.4  Nilai perilaku membolos siswa SMP Negeri 5 Palu sebelum dan sesudah  mengikuti layanan konseling kelompok teknik modeling.
NO
X
Y
D
Rd
Rd positif
Rd negatif
1
 50
 20
30
5,5
+ 5,5
 0
2
 30
 20
10
1,5
+ 1,5
 0
3
 20
 10
10
1,5
+ 1,5
 0
4
 50
 30
20
3,5
+ 3,5
 0
5
 30
 10
20
3,5
+ 3,5
 0
6
 30
 0
30
5,5
+ 5,5
 0

Jumlah T wilcoxon
+ 21
0
                 Keterangan
X : Hasil pengumpulan data sebelum diberikan konseling  kelompok teknik modeling
Y : Hasil pengumpulan data sesudah   diberikan konseling kelompok teknik modeling
D   : Selisih rata-rata X-Y
Rd  : Rangking 1-10
T    : Rumus uji wilcoxon sign rank test.
Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai T Wilcoxon = 0, sedangkan nilai untuk N = 6 dengan taraf kepercayaan 95% (ά=0,025), diperoleh nilai T tabel = 1, berdasarkan nilai tersebut dapat menunjukan bahwa nilai T hitung <  nilai T tabel atau 0 < 1. Dengan demikian dapat dilihat bahwa hipotesis nol (Ho) yang berbunyi perilaku membolos siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Palu sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling tidak lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling  ternyata ditolak.

C.      Hasil Progres Siswa
Progres setiap pertemuan dilakukan untuk melengkapi hasil pengujian data pada uji coba lapangan, yang akan dijabarkan tentang proses dalam setiap pertemuan. Tabel progres siswa pada pelaksanaan layanan konseling kelompok teknik modeling akan disajikan dalam tiga ranah yaitu understanding (pemahaman), comfortable (perasaan), action (tindakan). Layanan konseling kelompok teknik modeling diimplementasikan secara langsung oleh peneliti dengan pertimbangan bahwa yang menyusun progres ini adalah peneliti sendiri, dalam pengimplementasian layanan konseling kelompok teknik modeling ini peneliti melaksanakan sebanyak empat kali pertemuan.
Pelaksanaan layanan konseling kelompok teknik modeling tahap pertama dilaksanakan pada hari kamis tanggal 8 Januari 2015 pukul 08.00 wita dan bertempat di ruang kelas VIII B. Pada pertemuan ini, dari 6 siswa yang menjadi subjek penelitian 3 siswa mengaku senang dan 2 orang siswa mengaku nyaman setelah mengikuti layanan konseling kelompok teknik modeling karena mereka sudah cukup memahami mengenai masalah perilaku membolos siswa. Sedangkan 1 siswa mengaku masih bingung dengan masalah perilaku membolos siswa.
Pelaksanaan layanan konseling kelompok teknik modeling tahap kedua dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 17 Januari 2015 pukul 08.00 wita dan bertempat di ruang kelas VIII B. Pada pertemuan ini, dari 6 siswa yang menjadi subjek penelitian yang hadir sebanyak 6 siswa dan semuanya mengaku senang setelah mengikuti layanan konseling kelompok teknik modeling karena mereka jadi lebih memahami mengenai dampak negatif perilaku bolos setelah melihat modeling simbolik (gambar dampak negatif membolos) yang dilakukan oleh siswa. Pelaksanaan layanan konseling kelompok teknik modeling tahap ketiga dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 24 Januari 2015 pukul 08.00 wita dan bertempat di ruang kelas VIII B. Pada pertemuan ini, dari 6 siswa yang menjadi subjek penelitian yang hadir 5 siswa serta 3 diantaranya mengaku senang dan 2 orang mengaku cukup baik setelah mengikuti layanan konseling kelompok teknik modeling karena mereka semakin mengerti akan cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku membolos,  dan 1 siswa tidak hadir pada pelaksanaan layanan konseling kelompok teknik modeling tahap ketiga ini.
Pelaksanaan layanan konseling kelompok tahap keempat dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 31 Januari 2015 pukul 08.00 wita dan bertempat di ruang kelas VIII B. Pada pertemuan ini, dari 6 siswa yang menjadi subjek penelitian, yang hadir ada 6 siswa dan semuanya mengaku senang setelah mengikuti layanan konseling kelompok teknik modeling karena mereka semakin mengerti dan memahami bahwa perilaku membolos merupakan perilaku yang tidak baik serta mereka berusaha untuk tidak berperilaku bolos kembali.

Pembahasan
Hasil analisis deskriptif perilaku membolos siswa sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling dapat dijabarkan pada masing-masing subjek penelitian. MY memiliki prosentase perilaku membolos sebesar 50% sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang dilakukan MY diantaranya, keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi, tidak memperhatikan penjelasan guru pengajar di dalam kelas, tidak masuk kembali setelah meminta izin keluar kelas, bercanda dengan teman saat mengikuti pelajaran di dalam kelas, berbicara dengan teman saat mengikuti pelajaran di dalam kelas. DV memiliki prosentase perilaku membolos sebesar 30%, sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang dilakukan DV diantaranya, keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi, terlambat masuk kelas saat mengikuti pelajaran tertentu,dan bercanda dengan teman saat mengikuti pelajaran di dalam kelas. GW memiliki prosentase perilaku membolos sebesar 20%, sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang dilakukan GW diantaranya mengajak teman-teman untuk keluar pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi dan keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi. AP memiliki prosentase perilaku membolos sebesar 50%, sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang dilakukan AP yakni keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi, tidak masuk kembali setelah meminta izin keluar kelas, meninggalkan kelas saat jam istirahat usai bersama teman-teman, bercanda dengan teman saat mengikuti pelajaran di dalam kelas, berbicara dengan teman saat mengikuti pelajaran di kelas. IA memiliki prosentase perilaku membolos sebesar 30%, sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang dilakukan IA yakni keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi, mengajak teman-teman untuk keluar pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi, berbicara dengan teman saat mengikuti pelajaran d dalam kelas. KPA memiliki prosentase perilaku membolos sebesar 30%, sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang dilakukan KPA yakni keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi, tidak masuk kembali setelah meminta izin keluar kelas keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi. Perilaku membolos yang dilakukan siswa disebabkan oleh beberapa faktor  diantarannya, siswa tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran, siswa sulit untuk menolak ajakan teman, siswa merasa kurang betah berada di dalam kelas karena lebih merasa senang bermain di luar kelas.
Analisis deskriptif  perilaku membolos siswa sesudah diberikan layanan  konseling kelompok teknik modeling dapat dijabarkan pada masing-masing siswa yang menjadi subjek penelitian. MY memiliki prosentase perilaku membolos dari 50% menurun menjadi 20% sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang masih dilakukan MY yakni keluar kelas pada jam pelajaran tertentu  yang tidak disenangi dan tidak masuk kembali setelah meminta izin keluar kelas. DV memiliki prosentase perilaku membolos dari 30% menurun menjadi 20% sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang masih dilakukan DV yakni bercanda dengan teman saat mengikuti pelajaran di dalam kelas dan keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi.  GW memiliki prosentase perilaku membolos dari 20% menurun menjadi 10% sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang masih dilakukan GW yakni keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi.  AP memiliki  prosentase perilaku membolos dari 50% menurun menjadi 30% sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang masih dilakukan AP yakni keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi, tidak masuk kembali ke kelas setelah jam istirahat usai bersama teman-teman, tidak masuk kembali setelah meminta izin keluar kelas, meninggalkan kelas saat jam istirahat usai bersama teman-teman,. IA memiliki prosentase perilaku membolos dari 30% menurun menjadi 10% sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang masih dilakukan IA yakni mengajak teman- teman untuk keluar pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi. KPA memiliki prosentase perilaku membolos dari 30% menurun menjadi 0%.
Penurunan  prosentase perilaku membolos siswa tersebut terjadi karena topik yang dibahas dalam layanan konseling kelompok teknik modeling berkaitan dengan perilaku membolos, topik yang dibahas diantaranya, pengungkapan perilaku membolos, dampak negatif perilaku membolos dan cara mengatasi perilaku membolos.  Pembahasan topik tersebut diperkuat dengan penampilan modeling, baik modeling langsung maupun modeling simbolik (gambar dampak negatif membolos) penampilan modeling menurut Lutfifauzan (2009 :117) bertujuan “untuk memperoleh tingkah laku sosial yang lebih adaptif dan untuk mengurangi respon-respon yang tidak layak”.  Penurunan perilaku membolos juga bisa dilihat dari adanya observasi yang dilakukan sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling.






Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah diuraikan di atas dari hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1)        Perilaku membolos siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Palu sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling masuk dalam kategori tinggi, dengan prosentase rata-rata 35 %. Adapun skor perilaku membolos masing-masing siswa adalah MY memiliki skor 5 dengan prosentase 50%, DV memiliki skor 3 dengan prosentase 30%, GW memiliki skor 2 dengan prosentase 20%, AP memiliki skor 5 dengan prosentase 50%, IA memiliki skor 3 dengan prosentase 30% dan KPA memiliki skor 3 dengan prosentase 30%. 2) Perilaku membolos siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Palu sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling masuk dalam kategori sedang dengan prosentase rata-rata 15 %. Adapun skor perilaku membolos masing-masing siswa adalah MY memiliki skor 2 kali dengan prosentase 20%, DV memiliki skor 2 kali dengan prosentase 20%, GW memiliki skor 1 dengan prosentase 10%, AP memiliki skor 3 dengan prosentase 30%, IA memiliki skor 1 dengan prosentase 10% dan KPA memiliki skor 0 dengan prosentase 0%. 3) Perilaku membolos siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Palu sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling.
Saran
Adapun saran-saran dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1)                Bagi Guru Bimbingan dan Konseling, Layanan konseling kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling yang dapat digunakan oleh guru bimbingan dan konseling untuk membantu memecahkan berbagai permasalahan siswa, salah satunya meminimalisir perilaku membolos yang dilakukan oleh siswa melalui kegiatan konseling kelompok teknik modeling. 2) Bagi Siswa, dapat memanfaatkan pelayanan konseling kelompok untuk mengoptimalkan diri dalam mengurangi perilaku membolos karena layanan konseling kelompok dapat digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi, memahami permasalahan suatu individu dan bersosialisasi. 3) Bagi Orangtua, hendaknya dapat bekerjasama dengan pihak sekolah dalam hal ini adalah guru bimbingan dan konseling untuk terus menerus memantau perkembangan anaknya. 4) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya lebih mengembangkan layanan konseling kelompok dengan teknik dan variabel yang lain.

Daftar Pustaka
Bani, Sultan. 1985. Pemahaman Individu I Non Tes. Palu: Proyek Peningkatan/Pengembangan Pendidikan Tinggi Universitas Tadulako.

Djarwanto. (1999). Statistik Nonparametrik. Yokyakarta : BPFE.
Fauzan, Lutfi. 2004. Pendekatan-Pendekatan Konseling Individual. Malang: Elang Mas. [online] tersedia Http://Lutfifauzan.Wordpress.Com/2009/12/23/Teknik-Modeling Diakses 29 Agustus 2014
Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2010. Sosiologi 1B For Senior High School Grade X Semester 2. Jakarta : Glora Aksara Pratama [online] tersedia: http//Muhamad Reza.blogspot.com /2013/03/perilaku membolos.com diakses pada tanggal 16 September 2014.
Prayitno & Amti, Erman. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. Jakarta:
Rineka Cipta.

Suharsimi, A. 2006. Edisi Revisi Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Profesi Guru

PROFESI GURU DEFINISI Guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang memiliki kemampuan berdasarkan lat...