FEKTIVITAS
LAYANAN KONSELING KELOMPOK TEKNIK MODELING UNTUK MENGURANGI PERILAKU
MEMBOLOS SISWA
KELAS VIII
DI SMP NEGERI 5
PALU
I NENGAH SUBAGIA
ARTIKEL
Diajukan Sebagai
Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pada Program Studi Bimbingan
dan Konseling Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Tadulako
PROGRAM STUDI
BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TADULAKO
TAHUN 2015
EFEKTIVITAS LAYANAN KONSELING KELOMPOK TEKNIK
MODELING UNTUK MENGURANGI PERILAKU MEMBOLOS
SISWA KELAS VIII DI
SMPN 5 PALU
I NENGAH
SUBAGIA
No Stb.:
A 501 10 056
SKRIPSI
Program Studi
Bimbingan dan Konseling, Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu
PendidikanUniversitas Tadulako,
Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, April, 2015
Mobile HP: +6285242809737, E-mail:
ABSTRAK
Masalah dalam penelitian ini adalah
apakah perilaku membolos siswa sesudah diberikan layanan konseling kelompok
teknik modeling lebih rendah
dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. Tujuan penelitian ini adalah
untuk membuktikan perilaku membolos siswa sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik
modeling lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok
teknik modeling. Jenis penelitian yang digunakan adalah
quasi eksperimen dengan menggunakan one group pre-test and post-test. Subjek
penelitian ini berjumlah 6 siswa terdiri dari 4 perempuan dan 2 laki-laki yang
memiliki perilaku membolos. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah observasi. Data
Penelitian dianalisis dengan analisis deskriptif dan analisis inferensial
dengan menggunakan rumus wilcoxson sign rank test. Hasil yang
diperoleh prosentase perilaku membolos sebesar 35%. Sedangkan sesudah diberikan layanan konseling kelompok
teknik modeling, perilaku membolos
sebesar 15%. Hasil
penelitian dapat disimpulkan bahwa perilaku membolos sesudah diberikan layanan
konseling kelompok teknik modeling
lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok
teknik modeling.
Kata Kunci : Konseling
Kelompok, Teknik Modeling, Perilaku Membolos
THE EFFECTIVITY OF MODELING
TECHNIQUE GROUP COUNSELING SERVICE FOR
DECREASING STUDENTS’ TRUANCY
BEHAVIOR OF CLASS VIII SMPN
5 PALU
I NENGAH
SUBAGIA
Student
Number: A 501 10 056
SCRIPT
Department
of Guidance and Counseling Faculty of Teachers Training and Educational
Sciences Tadulako University, Palu, Central Sulawesi Province,
In the
Middle Part of Indonesia, April, 2015
Mobile HP: +6285242809737, E-mail:
ABSTRACT
The problems in this research is whether the
students truant behavior after given the modeling technique group counseling
service is lower than before given modeling technique group counseling service.
The purpose of this research is to prove the student truant behavior after the
given modeling technique group counseling service is lower in compared with the
before given modeling technique group counseling service. The type of this
research is quasi experiment with used one group pre test and post test. The
subject of this research amounted to 6 students consists of 4 woman and 2 men
who have truant behavior. The data gather method in this research is
observation. The data in this research was analized with descriptive analized and inferential analized by
used the formula Wilcoxson sign rank test. Percentage obtained result truant
behavior by 35%. Where as after given modeling technique group
counseling service, the students truant
behavior by 15%. The results of this research can be conclude that student
truant behavior after the given modeling technique group counseling service is
lower than before given modeling technique group counseling service.
Key Words: Group Counseling
Service, Modeling technique, Truant Behavior
Pendahuluan
Perilaku membolos
merupakan bentuk kegiatan yang
dilakukan siswa dengan sengaja meninggalkan pelajaran atau meninggalkan sekolah
tanpa meminta izin terlebih dahulu atau tanpa keterangan. Tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak tepat
dan tanpa alasan yang jelas.
Menurut Gunarsa (2006:23) bahwa “membolos adalah pergi meninggalkan sekolah
tanpa sepengetahuan pihak sekolah”. Menurut
M. Surya ( 2001: 55) “membolos adalah bentuk perilaku meninggalkan
aktifitas yang seharusnya dilakukan dalam waktu tertentu dan tugas/peranan tertentu
tanpa pemberitahuan yang jelas”. Sementara itu menurut Kun Maryati dan Jujun
Suryawati (2010:51) bahwa “perilaku membolos adalah salah satu bentuk dari
penyimpangan perilaku, penyimpangan itu terjadi karena adanya proses labelling ( pemberian julukan, cap, merek yang dianggap tidak
sesuai dengan norma sosial) yang diterima seseorang yang membuatnya melakukan
penyimpangan”.
Dewasa ini tidak sedikit siswa dibeberapa sekolah
ditemukan memiliki perilaku membolos, Perilaku
membolos yang telah ditemukan berupa siswa tidak ikut mata
pelajaran di dalam kelas tanpa keterangan yang jelas, siswa pulang
mendahului waktu pulang yang ditetapkan oleh sekolah tanpa
adanya keterangan yang jelas, siswa meminta izin ke luar kelas tapi
tidak kembali lagi ke kelas, dan tidak masuk kelas setelah jam istirahat usai.
Beberapa
perilaku yang ditemukan tersebut, mencermikan bahwa di SMP Negeri 5 Palu masih
banyak siswanya yang memiliki perilaku membolos. Pernyataan di atas didukung
dengan adanya hasil wawancara langsung yang dilakukan oleh peneliti terhadap
guru bimbingan dan konseling di SMP Negeri 5 Palu pada senin 25 Agustus 2014
yang menyatakan bahwa banyak
siswanya yang menunjukkan perilaku membolos seperti yang telah
dipaparkan di atas.
Kebiasaan
membolos yang sering dilakukan oleh siswa akan berdampak negatif pada dirinya,
misalnya dihukum, diskorsing, tidak dapat mengikuti ujian, bahkan bisa dikeluarkan dari
sekolah. Selain itu, kebiasaan membolos juga
dapat menurunkan prestasi belajar siswa tersebut. Perilaku membolos perlu
mendapat perhatian penuh dari berbagai pihak. Bukan hanya pihak
sekolah tetapi juga
orang tua, teman dan pemerintah.
Perilaku membolos tidak
hanya merugikan siswa itu sendiri, namun perilaku membolos bisa menjadi
sumber masalah dikalangan sekolah.
Bila
perilaku ini dibiarkan terus menerus dan tidak segera ditindak lanjuti, maka
orang tua dan guru di sekolah tentu juga ikut menanggung akibat dari perilaku membolos tersebut. Oleh karena
itu, penanganan terhadap siswa yang
memiliki perilaku membolos perlu
mendapat perhatian yang sangat serius. Dalam rangka membantu mengatasi perilaku
membolos tersebut, maka diperlukanlah suatu layanan yakni
melalui layanan bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan dan konseling mempunyai
tugas dan fungsi utama untuk membantu siswa dalam menciptakan kehidupan yang
efektif sehari – hari. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi
perilaku membolos siswa yaitu dengan memberikan
layanan konseling kelompok.
Prayitno
(2004:105), menyatakan bahwa “layanan konseling kelompok merupakan suatu
kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok
orang dengan mengaktifkan
dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan,
pribadi dan atau pemecahan masalah yang menjadi
peserta kegiatan kelompok.”
Dalam layanan konseling
kelompok ini siswa dapat secara leluasa untuk menyampaikan alasan
penyebab perilaku membolos. Di samping itu, layanan
konseling kelompok ini dapat
memberikan ruang dan kesempatan yang sebesar – besarnya kepada
siswa baik dalam menyampaikan
masalahnya maupun mengeluarkan pendapat guna memberikan
solusi secara bersama sebagai
penyelesaian masalah yang dihadapi.
Penyelesaian masalah
dalam konseling kelompok perlu pula didukung dengan adanya suatu model (sosok positif)
guna untuk memperkuat hasil penyelesaian masalah yang telah dilakukan dalam
konseling kelompok. Model yang dimaksud
dapat berupa model simbolis dan atau seorang tauladan.
Istilah modeling
merupakan istilah umum untuk menunjukan terjadinya proses
belajar melalui pengamatan
dari orang lain dan perubahan
yang terjadi karena melalui peniruan. Teknik modeling ini adalah suatu komponen dari suatu strategi di mana
peneliti menyediakan demonstrasi tentang
tingkah laku yang
menjadi tujuan. Tujuan penggunaan
teknik modeling disesuaikan dengan
kebutuhan ataupun permasalahan siswa, seperti untuk memperoleh tingkah laku sosial yang lebih baik, membantu
siswa untuk merespon hal-hal
yang baru dan untuk mengurangi tingkah
laku yang tidak
sesuai seperti perilaku membolos.
Siswa
yang sering melanggar peraturan sekolah seperti perilaku membolos, dapat
diatasi melalui pemberian layanan konseling kelompok teknik modeling. Pelaksanaan layanan konseling kelompok teknik
modeling di sekolah dilakukan
melalui empat tahapan yaitu tahap
pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran,
penggabungan teknik modeling
dilakukan pada setiap tahapan konseling kelompok, di mana peneliti akan menampilkan
model berupa model simbolis (gambar-gambar) mengenai dampak perilaku membolos
dan seorang model langsung. Dalam
penggabungan tersebut siswa
diharapkan mampu mengamati
perilaku model yang telah ditampilkan baik melalui seorang tauladan (model
langsung) maupun simbol atau gambar - gambar tersebut. Dalam hal ini siswa berkesempatan untuk
belajar perilaku baru guna mengubah perilaku membolos dengan cara mengamati
model yang ditampilkan, sehingga diharapkan mampu mengurangi perilaku membolos
di kalangan siswa khususnya di SMP Negeri 5 Palu.
Bertitik
tolak dari uraian di atas perlu kiranya dilakukan suatu penelitian untuk
mengurangi perilaku membolos siswa,
yakni menggabungkan layanan konseling kelompok dengan teknik modeling. Berdasarkan hal tersebut
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas Layanan
Konseling Kelompok Teknik Modeling
untuk Mengurangi Perilaku Membolos Siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Palu”. Oleh karena itu, yang menjadi rumusan masalah
dalam penelitian ini yaitu 1) bagaimana perilaku membolos siswa kelas VIII di
SMP Negeri 5 Palu sebelum dan sesudah diberikan layanan konseling kelompok
teknik modeling. 2) apakah perilaku
membolos siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Palu sesudah diberikan layanan konseling
kelompok teknik modeling lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan
layanan konseling kelompok teknik modeling.
sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi
perilaku membolos siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Palu sebelum dan sesudah
diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling.
2) Membuktikan perilaku membolos siswa kelas VIII SMP Negeri
5 Palu sesudah
diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling
Metodologi Penelitian
Jenis penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen
semu (quasi experimen
research). Penelitian eksperimen
semu adalah
penelitian dimana ada perlakuan terhadap variabel dependen
yaitu siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Palu. Peneliti hanya mengontrol sebagian
dari variabel yang berpengaruh dan masih ada variabel-variabel lain yang
berpengaruh yang tidak dapat dikontrol.. Prosedur penelitian dibagi
menjadi 3 tahap antara lain: 1) tahap awal, 2) tahap pelaksanaan, 3) tahap
akhir. Sedangkan prosedur pelaksanaan konseling kelompok teknik modeling yaitu meliputi langkah-langkah 1) tahap
pembukaan , 2) tahap peralihan, 3) tahap kegiatan, 4) tahap pengahiran.
Teknik
pengumpulan data pada penelitian ini adalah, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Jenis data dalam
penelitian ini yaitu data primer, artinya data langsung yang diperoleh dari
siswa dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi aspek perilaku membolos
siswa yang diberikan konseling kelompok teknik modeling, dan yang kedua adalah data sekunder, artinya data yang
diperoleh dari tempat penelitian melalui wawancara kepada guru bimbingan dan
konseling, guru wali kelas, dan guru mata pelajaran. Analisis data dilakukan dengan
mengacu pada analisis deskriptif dan analisis
inferensial. Analisis data deskriptif menggunakan rumus deskriptif persentase
(Arikunto, 2007:236) dengan menggunakan
pedoman kategori perilaku membolos (Sultan Bani, 1985: 22 ) sedangkan analisis
inferensial menggunakan rumus rumus wilcoxon
signed rank test (Djarwanto. 1999).
Hasil Penelitian
A. Analisis
Deskriptif
1) Hasil Analisis Deskriptif Perilaku Membolos Sebelum
Diberikan Layanan Konseling Kelompok Teknik Modeling
Tabel 4.1 Kategori dan Prosentase Perilaku Membolos Siswa Kelas VIII SMP Negeri 5 Palu Sebelum Diberikan Layanan Konseling Kelompok teknik Modeling
No.
|
Kode siswa
|
Jumlah skor
|
Prosentase (%)
|
Kategori Perilaku Membolos
|
1
|
MY
|
5
|
50 %
|
Sangat Tinggi
|
2
|
DV
|
3
|
30 %
|
Tinggi
|
3
|
GW
|
2
|
20%
|
Sedang
|
4
|
AP
|
5
|
50 %
|
Sangat tinggi
|
5
|
IA
|
3
|
30 %
|
Tinggi
|
6
|
KPA
|
3
|
30%
|
Tinggi
|
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diperhatikan bahwa jumlah skor dan prosentase
perilaku membolos masing- masing siswa yang menjadi subjek
penelitian adalah MY memiliki skor 5
dengan prosentase 50%, DV memiliki skor 3 dengan prosentase 30%, GW memiliki
skor 2 dengan prosentase 20%, AP memiliki skor 5 dengan prosentase 50%, IA
memiliki skor 3 dengan prosentase 30%, KPA
memiliki skor 3 dengan prosentase 30%.
2)
Hasil Analisis
Deskriptif Perilaku Membolos Sesudah Diberikan Layanan Konseling Kelompok
Teknik Modeling
Tabel 4.2 Kategori dan Prosentase Perilaku Membolos Siswa Kelas VIII SMP Negeri 5 Palu Sesudah diberikan Layanan Konseling Kelompok Teknik Modeling
No.
|
Kode siswa
|
Jumlah skor
|
Prosentase (%)
|
Kategori Perilaku Membolos
|
1
|
MY
|
2
|
20%
|
Sedang
|
2
|
DV
|
2
|
20%
|
Sedang
|
3
|
GW
|
1
|
10%
|
Rendah
|
4
|
AP
|
3
|
30%
|
Tinggi
|
5
|
IA
|
1
|
10%
|
Rendah
|
6
|
KPA
|
0
|
0%
|
Rendah
|
Berdasarkan
tabel 4.2 dapat diperhatikan bahwa
jumlah skor dan prosentase perilaku membolos masing- masing siswa yang menjadi subjek penelitian sesudah diberikan
layanan konseling kelompok teknik
modeling adalah MY memiliki skor 2 dengan prosentase 20%, DV memiliki skor 2 dengan prosentase 20%, GW memiliki skor
1 dengan prosentase 10%, AP memiliki skor 3 kali dengan prosentase 30%, IA memiliki
skor 1 dengan prosentase 10% dan KPA memiliki skor 0 dengan prosentase 0%.
3)
Deskripsi Penurunan Perilaku Membolos Siswa Kelas VIII
SMP Negeri 5 Palu Sebelum dan Sesudah Diberikan Layanan Konseling Kelompok
Teknik Modeling
Tabel 4.3 Deskripsi Penurunan Perilaku Membolos Siswa Kelas VIII SMP
Negeri 5 Palu Sebelum dan Sesudah Diberikan Layanan Konseling Kelompok Teknik Modeling
No
|
Kode Siswa
|
Sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik
Modeling
|
Sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling
|
Penurunan perilaku membolos
(%)
|
||
Persentase
(%)
|
Kategori perilaku membolos
|
Persentase
(%)
|
Kategori perilaku membolos
|
|||
1
|
MY
|
50 %
|
Sangat Tinggi
|
20 %
|
Sedang
|
30%
|
2
|
DV
|
30 %
|
Tinggi
|
20 %
|
Sedang
|
10 %
|
3
|
GW
|
20 %
|
Sedang
|
10 %
|
Rendah
|
10%
|
4
|
AP
|
50 %
|
Sangat Tinggi
|
30 %
|
Tinggi
|
20%
|
5
|
IA
|
30 %
|
Tinggi
|
10 %
|
Rendah
|
20%
|
6
|
KPA
|
30 %
|
Tinggi
|
0 %
|
Rendah
|
30%
|
Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa masing-
masing subjek mengalami penurunan prosentase perilaku membolos yang
berbeda-beda. MY mengalami penurunan prosentase perilaku membolos sebesar 30 %
sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. DV mengalami penurunan prosentase perilaku membolos
sebesar 10 % sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling. GW mengalami penurunan
prosentase perilaku membolos sebesar 10 % sesudah diberikan layanan konseling
kelompok teknik modeling. AP
mengalami penurunan prosentase perilaku membolos sebesar 20 % sesudah diberikan
layanan konseling kelompok teknik modeling.
IA mengalami penurunan prosentase perilaku membolos sebesar 20 % sesudah diberikan
layanan konseling kelompok teknik modeling.
KPA mengalami penurunan prosentase perilaku membolos sebesar 30% sesudah diberikan
layanan konseling kelompok teknik modeling.
B.
Analisis
Inferensial
Pengujian
hipotesis nol dalam penelitian ini menggunakan analisis secara statistik dengan
rumus wilcoxon signed rank test.
Perhitungan analisis ini menggunakan tabel persiapan T wilcoxon sebagai
berikut:
Tabel4.4 Nilai perilaku membolos siswa SMP Negeri 5
Palu sebelum dan sesudah mengikuti
layanan konseling kelompok teknik modeling.
NO
|
X
|
Y
|
D
|
Rd
|
Rd positif
|
Rd negatif
|
1
|
50
|
20
|
30
|
5,5
|
+ 5,5
|
0
|
2
|
30
|
20
|
10
|
1,5
|
+ 1,5
|
0
|
3
|
20
|
10
|
10
|
1,5
|
+ 1,5
|
0
|
4
|
50
|
30
|
20
|
3,5
|
+ 3,5
|
0
|
5
|
30
|
10
|
20
|
3,5
|
+ 3,5
|
0
|
6
|
30
|
0
|
30
|
5,5
|
+ 5,5
|
0
|
Jumlah T wilcoxon
|
+ 21
|
0
|
||||
Keterangan
X : Hasil pengumpulan data sebelum diberikan
konseling kelompok teknik modeling
Y : Hasil pengumpulan data sesudah diberikan
konseling kelompok teknik modeling
D : Selisih
rata-rata X-Y
Rd : Rangking
1-10
T : Rumus uji wilcoxon sign rank test.
Berdasarkan
tabel di atas diperoleh nilai T Wilcoxon
= 0, sedangkan nilai untuk N = 6 dengan taraf kepercayaan 95% (ά=0,025), diperoleh
nilai T tabel = 1, berdasarkan nilai tersebut dapat menunjukan bahwa nilai T hitung
< nilai T tabel atau 0
< 1. Dengan demikian dapat dilihat bahwa hipotesis nol (Ho) yang berbunyi perilaku
membolos siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Palu sesudah diberikan layanan konseling
kelompok teknik modeling tidak lebih
rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling
ternyata ditolak.
C.
Hasil Progres Siswa
Progres setiap pertemuan dilakukan untuk melengkapi
hasil pengujian data pada uji coba lapangan, yang akan dijabarkan tentang proses dalam setiap pertemuan. Tabel progres siswa pada pelaksanaan layanan
konseling kelompok teknik modeling akan
disajikan dalam tiga ranah yaitu understanding
(pemahaman), comfortable (perasaan), action (tindakan). Layanan konseling
kelompok teknik modeling diimplementasikan
secara langsung oleh peneliti dengan pertimbangan bahwa yang menyusun progres
ini adalah peneliti sendiri, dalam pengimplementasian layanan konseling
kelompok teknik modeling ini peneliti
melaksanakan sebanyak empat kali pertemuan.
Pelaksanaan layanan konseling kelompok teknik modeling tahap pertama dilaksanakan pada
hari kamis tanggal 8 Januari 2015 pukul 08.00 wita dan bertempat di ruang kelas
VIII B. Pada pertemuan ini, dari 6 siswa yang menjadi subjek penelitian 3 siswa
mengaku senang dan 2 orang siswa mengaku nyaman setelah mengikuti layanan
konseling kelompok teknik modeling karena mereka sudah cukup memahami mengenai
masalah perilaku membolos siswa. Sedangkan 1 siswa mengaku masih bingung dengan
masalah perilaku membolos siswa.
Pelaksanaan layanan konseling kelompok teknik modeling tahap kedua dilaksanakan pada
hari sabtu tanggal 17 Januari 2015 pukul 08.00 wita dan bertempat di ruang
kelas VIII B. Pada pertemuan ini, dari 6 siswa yang menjadi subjek penelitian
yang hadir sebanyak 6 siswa dan semuanya mengaku senang setelah mengikuti
layanan konseling kelompok teknik modeling
karena mereka jadi lebih memahami mengenai dampak negatif perilaku bolos
setelah melihat modeling simbolik (gambar
dampak negatif membolos) yang dilakukan oleh siswa. Pelaksanaan layanan
konseling kelompok teknik modeling
tahap ketiga dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 24 Januari 2015 pukul 08.00
wita dan bertempat di ruang kelas VIII B. Pada pertemuan ini, dari 6 siswa yang
menjadi subjek penelitian yang hadir 5 siswa serta 3 diantaranya mengaku senang
dan 2 orang mengaku cukup baik setelah mengikuti layanan konseling kelompok
teknik modeling karena mereka semakin
mengerti akan cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku membolos, dan 1 siswa tidak hadir pada pelaksanaan
layanan konseling kelompok teknik modeling
tahap ketiga ini.
Pelaksanaan layanan konseling kelompok tahap keempat
dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 31 Januari 2015 pukul 08.00 wita dan
bertempat di ruang kelas VIII B. Pada pertemuan ini, dari 6 siswa yang menjadi
subjek penelitian, yang hadir ada 6 siswa dan semuanya mengaku senang setelah
mengikuti layanan konseling kelompok teknik modeling
karena mereka semakin mengerti dan memahami bahwa perilaku membolos merupakan
perilaku yang tidak baik serta mereka berusaha untuk tidak berperilaku bolos
kembali.
Pembahasan
Hasil
analisis deskriptif perilaku membolos siswa sebelum diberikan layanan konseling
kelompok teknik modeling dapat
dijabarkan pada masing-masing subjek penelitian. MY memiliki prosentase
perilaku membolos sebesar 50% sebelum diberikan layanan konseling kelompok
teknik modeling, perilaku membolos
yang dilakukan MY diantaranya, keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang
tidak disenangi, tidak memperhatikan penjelasan guru pengajar di dalam kelas, tidak
masuk kembali setelah meminta izin keluar kelas, bercanda dengan teman saat
mengikuti pelajaran di dalam kelas, berbicara dengan teman saat mengikuti
pelajaran di dalam kelas. DV memiliki
prosentase perilaku membolos sebesar 30%, sebelum diberikan layanan
konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang dilakukan DV diantaranya,
keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi, terlambat masuk
kelas saat mengikuti pelajaran tertentu,dan bercanda dengan teman saat
mengikuti pelajaran di dalam kelas. GW memiliki prosentase perilaku membolos
sebesar 20%, sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang
dilakukan GW diantaranya mengajak teman-teman untuk keluar pada jam pelajaran
tertentu yang tidak disenangi dan keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang
tidak disenangi. AP memiliki prosentase perilaku membolos sebesar 50%, sebelum
diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling,
perilaku membolos yang dilakukan AP yakni keluar kelas pada jam pelajaran
tertentu yang tidak disenangi, tidak masuk kembali setelah meminta izin keluar
kelas, meninggalkan kelas saat jam istirahat usai bersama teman-teman, bercanda
dengan teman saat mengikuti pelajaran di dalam kelas, berbicara
dengan teman saat mengikuti pelajaran di kelas. IA memiliki prosentase perilaku
membolos sebesar 30%, sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang
dilakukan IA yakni keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak
disenangi, mengajak teman-teman untuk keluar pada jam pelajaran tertentu yang
tidak disenangi, berbicara dengan teman saat mengikuti pelajaran d dalam kelas.
KPA memiliki prosentase perilaku membolos sebesar 30%, sebelum diberikan
layanan konseling kelompok teknik modeling,
perilaku membolos yang dilakukan KPA yakni keluar kelas pada jam pelajaran
tertentu yang tidak disenangi, tidak masuk kembali setelah meminta izin keluar
kelas keluar kelas pada jam pelajaran tertentu yang tidak disenangi. Perilaku
membolos yang dilakukan siswa disebabkan oleh beberapa faktor diantarannya, siswa tidak mengerjakan tugas
yang diberikan oleh guru mata pelajaran, siswa sulit untuk menolak ajakan
teman, siswa merasa kurang betah berada di dalam kelas karena lebih merasa
senang bermain di luar kelas.
Analisis
deskriptif perilaku membolos siswa sesudah
diberikan layanan konseling kelompok
teknik modeling dapat dijabarkan pada
masing-masing siswa yang menjadi subjek penelitian. MY memiliki
prosentase perilaku membolos dari 50% menurun menjadi 20% sesudah diberikan
layanan konseling kelompok teknik modeling,
perilaku membolos yang masih dilakukan MY yakni keluar kelas pada jam pelajaran
tertentu yang tidak disenangi dan tidak
masuk kembali setelah meminta izin keluar kelas. DV memiliki prosentase perilaku membolos dari 30% menurun menjadi 20% sesudah
diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling,
perilaku membolos yang masih dilakukan DV yakni bercanda dengan teman saat
mengikuti pelajaran di dalam kelas dan keluar kelas pada jam pelajaran tertentu
yang tidak disenangi. GW memiliki
prosentase perilaku membolos dari 20% menurun menjadi 10% sesudah diberikan
layanan konseling kelompok teknik modeling,
perilaku membolos yang masih dilakukan GW yakni keluar kelas pada jam
pelajaran tertentu yang tidak disenangi.
AP memiliki prosentase perilaku
membolos dari 50% menurun menjadi 30% sesudah diberikan layanan konseling
kelompok teknik modeling, perilaku
membolos yang masih dilakukan AP yakni keluar kelas pada jam pelajaran tertentu
yang tidak disenangi, tidak masuk kembali ke kelas setelah jam istirahat usai
bersama teman-teman, tidak masuk kembali setelah meminta izin keluar kelas,
meninggalkan kelas saat jam istirahat usai bersama teman-teman,. IA memiliki prosentase perilaku membolos dari 30%
menurun menjadi 10% sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling, perilaku membolos yang masih
dilakukan IA yakni mengajak teman- teman untuk keluar pada jam pelajaran
tertentu yang tidak disenangi. KPA memiliki prosentase perilaku membolos dari
30% menurun menjadi 0%.
Penurunan
prosentase perilaku membolos siswa tersebut terjadi karena topik yang
dibahas dalam layanan konseling kelompok teknik modeling berkaitan dengan perilaku membolos, topik yang dibahas
diantaranya, pengungkapan perilaku membolos, dampak negatif perilaku membolos
dan cara mengatasi perilaku membolos.
Pembahasan topik tersebut diperkuat dengan penampilan modeling, baik modeling langsung maupun modeling
simbolik (gambar dampak negatif membolos) penampilan modeling menurut Lutfifauzan (2009 :117) bertujuan “untuk
memperoleh tingkah laku sosial yang lebih adaptif dan untuk mengurangi
respon-respon yang tidak layak”.
Penurunan perilaku membolos juga bisa dilihat dari adanya observasi yang
dilakukan sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil analisis data yang telah diuraikan di atas dari hasil penelitian yang
dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1)
Perilaku membolos siswa kelas VIII SMP Negeri 5
Palu sebelum diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling masuk dalam kategori tinggi, dengan prosentase rata-rata
35 %. Adapun skor perilaku membolos masing-masing siswa
adalah MY memiliki skor 5 dengan prosentase 50%, DV memiliki skor 3 dengan
prosentase 30%, GW memiliki skor 2 dengan prosentase 20%, AP memiliki skor 5
dengan prosentase 50%, IA memiliki skor 3 dengan prosentase 30% dan KPA memiliki
skor 3 dengan prosentase 30%. 2) Perilaku membolos siswa kelas
VIII SMP Negeri 5 Palu sesudah diberikan layanan konseling kelompok teknik modeling masuk dalam kategori sedang
dengan prosentase rata-rata 15 %. Adapun skor perilaku membolos masing-masing siswa adalah MY memiliki skor
2 kali dengan prosentase 20%, DV memiliki skor 2 kali dengan prosentase 20%, GW
memiliki skor 1 dengan prosentase 10%, AP memiliki skor 3 dengan prosentase
30%, IA memiliki skor 1 dengan prosentase 10% dan KPA memiliki skor 0 dengan
prosentase 0%. 3) Perilaku membolos siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Palu sesudah diberikan layanan konseling
kelompok teknik modeling lebih rendah dibandingkan dengan sebelum diberikan layanan konseling
kelompok teknik modeling.
Saran
Adapun saran-saran dalam
penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1)
Bagi Guru Bimbingan dan Konseling, Layanan
konseling kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling yang
dapat digunakan oleh guru bimbingan dan konseling untuk membantu memecahkan
berbagai permasalahan siswa, salah satunya meminimalisir perilaku membolos yang
dilakukan oleh siswa melalui kegiatan konseling kelompok teknik modeling. 2) Bagi
Siswa, dapat memanfaatkan pelayanan konseling kelompok untuk mengoptimalkan
diri dalam mengurangi perilaku membolos karena layanan konseling kelompok dapat
digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi, memahami permasalahan suatu
individu dan bersosialisasi. 3) Bagi Orangtua, hendaknya dapat bekerjasama
dengan pihak sekolah dalam hal ini adalah guru bimbingan dan konseling untuk
terus menerus memantau perkembangan anaknya. 4) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya lebih mengembangkan
layanan konseling kelompok dengan teknik dan variabel yang lain.
Daftar
Pustaka
Bani,
Sultan. 1985. Pemahaman Individu I Non
Tes. Palu: Proyek Peningkatan/Pengembangan Pendidikan Tinggi Universitas
Tadulako.
Djarwanto. (1999). Statistik
Nonparametrik. Yokyakarta : BPFE.
Fauzan, Lutfi. 2004. Pendekatan-Pendekatan
Konseling Individual. Malang: Elang Mas. [online] tersedia Http://Lutfifauzan.Wordpress.Com/2009/12/23/Teknik-Modeling Diakses 29 Agustus 2014
Maryati,
Kun dan Juju Suryawati. 2010. Sosiologi
1B For Senior High School Grade X Semester 2. Jakarta : Glora Aksara
Pratama [online] tersedia: http//Muhamad Reza.blogspot.com /2013/03/perilaku
membolos.com diakses pada tanggal 16 September 2014.
Prayitno &
Amti, Erman. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. Jakarta:
Rineka Cipta.
Suharsimi,
A. 2006. Edisi Revisi Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta : Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar