Senin, 20 November 2017

MODEL KONSELING “TEORI GESTALT”





MODEL-MODEL KONSELING
“TEORI GESTALT”

Di Susun Oleh :
Kelompok IV
NURUL ANUGRAH DARWIS      A 501 14 011
GEORGE                                         A 501 14 025
NI MADE RESTY A                       A 501 14 027
I MADE PERKASA                        A 501 14 041
LISDA DAMAYANTI                     A 501 14 061
MAQFIRA                                       A 501 14 089


PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2017

TEORI GESTALT

A.      SEJARAH PERKEMBANGAN
Teori Gestalt diperkenalkan oleh Frederick (Fritz) Salomon Perls (1983-1970). Gestalt dalam bahasa Jerman mempunyai arti bentuk, wujud atau organisasi. Kata itu mengandung pengertian kebulatan atau keparipurnaan (Schultz, 1991:171). Simkin dalam (Gilliand, 1989:92) mengatakan bahwa kata Gestalt mempunyai makna keseluruhan (whole) atau konfigurasi (configuaration). Dengan demikian Perls lebih mengutamakan adanya integrasi bagian-bagian terkecil kepada suatu hal penting dan menjadi fungsi dasar bagi manusia.
Sejarah pendekatan Gestalt di awali sejak tahun 1926 ketika Perls mendapatkan gelar Medical Doctor (MD) pergi ke Frankfrut-ammain dan menjadi asisten Kurt Goldstein di The Intitute for Brain Damage Soldier. Disinilah Perls bekerjasama dengan profesor Goldsteins dan Adhemar Gelb serta ia bertemu dengan calon istrinya, Laura. Pada waktu itu Frankfrut-ammain adalah pusat pergolakan intelektual dan Perls secara langsung dan tidak langsung terekspos dengan pengaruh filsafat eksistensial dan psikoanalisis yang menjadi akar pemikirannya dalam mengembangakan pendekatan Gestalt (Corey, 1976, p.120; yotnef 1993).
Terdapat tiga tokoh yang mempengaruhi perkembangan intelektual Perls hingga menghasilkan pendekatan Gestalt. Pertama dari Filsuf Sigmund Freudlander, Perls mendapatkan konsep tentang diferrential thinking dan creative indiference yang Ia sebutkan dalam buku pertamanya Ego, Hunger and Aggressipn (1947). Kedua Perls dipengaruhi oleh Jan Smuts, perdana menteri Afrika Utara dimana Perls pindah bersama keluarganya ketika melarikan diri dari Nazi German ketika Nazi menguasai Belanda. Sebelum menjadi perdana menteri, Smuts telah menulis buku utama tentang Holism and Evolution yang menjadi acuan perspektif Gestalt. Ketiga Alfred Korzybski, seorang ahli semantik yang berpengaruh pada perkembangan pemikiran intelektual Perls (Yotnef 1993).
Pendekatan Gestalt di mulai ketika Perls menulis Ego, Hunger and Aggressipn pada tahun 1941-1942. Terbitan pertama buku ini pada tahun 1946 di Afrika Utara yang berjudul A Revision of Freud’s and Method. Para tokoh-tokoh yang mempelajari Gestalt, diantaranya Paul Weisz, Lotte Weidenfeld, Buck Eastman, Paul Goodman, Isadore From, Elliot Shapiro, Leo Chalfen, Iris Sanguilano, James Simkin dan Kenneth A. Fisher.
Penemu psikoterapi Gestalt adalah Frederick (Fritz) Perls dan mulai berkembang pada awal tahun 1950. Pendekatan Gestalt berfokus pada masa kini dan itu dibutuhkan kesadaran saat itu juga. Kesadaran ditandai oleh kontak, penginderaan dan gairah. Geralt Corey dalam bukunya (Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, hal 118) mengatakan bahwa terapi Gestalt yang dikembangkan Frederick Perls adalah bentuk terapi yang mengharuskan individu menemukan jalannya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan.
Ketika Behaviorisme berkembang pesat di Amerika Serikat, maka di negara Jerman muncul aliaran yang dinamakan Psikologi Gestalt (arti kata Gestalt, dalam bahasa Jerman ialah bentuk, pola atau struktur). Para psikolog Gestalt yakin bahwa pengalaman seseorang mempunyai kualitas kesatuan dan struktur. Aliran gestalt ini muncul juga karena ketidakpuasan terhadap aliran struktualis, khususnya karena struktualis mengabaikan arti pengalaman seseorang yang kompleks.

B.       HAKIKAT MANUSIA
1)        Manusia merupakan keseluruhan yang terdiri dari badan, emosi, pikiran sensasi dan persepsi yang semuanya mempunyai fungsi dan saling berhubungan.
2)        Manusia merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungan itu.
3)        Manusia adalah proaktif. Ia menentukan responnya terhadap stimulus yang terdiri dari lingkungannya.
4)        Manusia berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi dan pemikirannya.
5)       Manusia melalui kesadaran dapat memilih dan bertanggung jawab terhadap tindakan perilakunya.
6)       Manusia mempunyai perlengkapan dan sumber-sumber untuk kehidupannya secara efektif dan untuk mengembangkan diri melalui kemampuan yang dimilikinya.
7)        Manusia hanya dapat mengalami sendiri dalam masa sekarang, masa lalu dan masa yang akan datang hanya akan dapat  dialami dengan melalui mengingat-ingat.

C.      PERKEMBANGAN PERILAKU
1.      Struktur Kepribadian
a.       Aktualisasi diri
Perls mengemukakan bahwa semua makhluk hidup secara alamiah berupaya mengembangkan dirinya sendiri. Aktualisasi diri merupakan apa yang diupayakan seseorang agar menjadi kenyataan.
b.       Pengaturan diri
Perls yakin bahwa manusia mempunyai kemampuan bawaan untuk mengatur dirinya sendiri. Pengaturan diri organisme berfungsi untuk mengurangi ketegangan dalam diri individu.
c.       Kesadaran
Merupakan suatu konsep pokok dalam konseling gestalt. Kesadaran dipandang sebagai suatu kontak yang waspada mengenai peristiwa atau kebutuhan yang terpenting dalam kehidupan seseorang.
d.       Kontak diperlukan agar perubahan dan pertumbuhan terjadi
Kontak merupakan kesadaran dan tingkah laku individu dalam mengasimilasi hal-hal baru dalam lingkungannya dan penolakan terhadap hal-hal baru yang tidak dapat diasimilasikan pada dirinya.
e.       Gestalt
Usaha individu untuk membentuk suatu keseluruhan yang terorganisasi secara bermakna.

2.      Pribadi Sehat dan Bermasalah
a)       Pribadi sehat
Individu yang sehat adalah yang seimbang antara ikatan organisme dan lingkungan dan mengadakan hubungan yang terus-menerus. Selain itu, ada dua pandangan tentang pribadi yang sehat menurut Gestalt yaitu:
a.       Gestalt yang baik sebagai polaritas itu mampu menggambarkan suatu medan persepsi atau terbentuk dengan jelas dalam bentuk yang baik.
b.      Polaritas penyesuaian yang kreatif. Seorang pribadi yang mampu menunjukan interkasi yang kreatif mengambil tanggung jawab bagi keseimbangan ekologis antara diri sendiri dan sekitar.
b)       Pribadi bermasalah
Pribadi bermasalah terjadi karena adanya pertentangan antara kekuatan “top dog” dan “under dog”. Top dog adalah posisi kuat yang menuntut mangancam, sedangkan under dog adalah keadaan membela diri, tidak berdaya dan pasif. Pribadi bermasalah disebabkan karena ketidakmampuan seseorang dalam mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya karena disebabkan mengalami kesenjangan antara masa sekarang dan masa yang akan datang.
Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensi yang dimilikinya.




D.      HAKIKAT KONSELING
Hakikat Konseling Gestalt adalah membantu konseli menjadi individu yang merdeka dan berdiri sendiri. Selain itu Konseling Gestalt adalah usaha bantuan yang diberikan untuk individu mencapai kesadaran, integritas pribadi, tanggung jawab dan kematangan.

E.       KONDISI PENGUBAHAN
1.      Tujuan
a.       Tujuan umum
Tujuan utama Konseling Gestalt adalah membantu konseli agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa konseli haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/ orang lain menjadi percaya pada diri dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.
Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensi yang dimilikinya. Melalui Konseling, konselor membantu konseli agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dapat dikembangkan secara optimal.
b.      Tujuan khusus
Secara khusus tujuan Konseling Gestalt adalah sebagai berikut :
1)   Membantu konseli agar dapat memperoleh kesadaran pribadi dan memahami kenyataan atau realitas.
2)   Membantu konseli menuju pencapaian integritas kepribadiannya.
3)   Mengentaskan konseli dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself).
4)   Meningkatkan kesadaran individual agar konseli dapat bertingkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik.

2.      Sikap, Peran dan Tugas Konselor
Dalam pendekatan teori Gestalt ini, peran konselor adalah:
a)      Memfokuskan pada perasaan konseli, kesadaran pada saat yang sedang berjalan, serta hambatan terhadap kesadaran.
b)      Tugas terapis adalah menantang konseli sehingga mereka mau memanfaatkan indera mereka sepenuhnya dan berhubungan dengan pesan-pesan tubuh mereka.
c)      Menaruh perhatian pada bahasa tubuh konseli, sebagai petunjuk non verbal.
d)     Secara halus berkonfrontasi dengan konseli guna untuk menolong mereka menjadi sadar akan akibat dari bahasa mereka.
Tugas konselor adalah mendorong konseli untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya dan mau mencoba menghadapinya. Konseli bisa diajak untuk memilih dua alternatif, yaitu menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Selain itu, koselor diharapkan menghindari diri dari pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi, maupun memberi nasehat.

3.      Sikap, Peran dan Tugas Konseli
Agar proses konseling dapat mencapai perubahan pribadi konseli yang diinginkan maka diperlukn beberapa kondisi yang seharusnya ada pada konseli yaitu adanya kesediaan konseli secara sukarelaa untuk menerima bantuan dan dapat bertangungjawab terhadap dirinya sendiri,dapat mengungkapkan perasaan tertekannya dengan baik. Konseli dan konselor harus bias menciptakan suasana yang kondusif dalam proses konseling.
4.      Situasi Hubungan
Hubungan konselor dengan konseli, M.A Subandi dalam bukunya (Psikoterapi, hal 89) hubungan antara konselor dan konseli adalah sejajar yaitu hubungan antara konseli dan konselor itu adanya/melibatkan dialog dan hubungan antara keduanya. Pengalaman-pengalaman kesadaran dan persepsi konselor merupakan inti dari proses konseling.
Menurut Gerald Corey dalam bukunya (Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, hal 132), hubungan konselor dan konseli dalam praktek terapi Gestalt yang efektif yaitu dengan melibatkan hubungan kepribadian-kepribadian antara konselor dan konseli. Pengalaman-pengalaman kesadaran dan persepsi-persepsi konselor menjadi latar belakang, sementara kesadaran dan reaksi-reaksi konseli membentuk bagian muka proses terapi.

F.       MEKANISME PENGUBAHAN
1.      Tahap-Tahap Konseling
Tahap-tahap pada proses konseling Gestalt adalah:
a.         Tahap Pertama (The Beginning Phase)
Konselor menggunakan metode fenomologi untuk meningkatkan kesadaran konseli, menciptakan hubungan dialogis mendorong keberfungsian konseli secara sehat dan menstimulasi konseli untuk mengembangkan dukungan pribadi (personal support) dan lingkungannya (Joyce and Still 2001 dalam Safari 2005).
Secara garis besar proses yang dilalui dalam konseling tahap pertama adalah menciptakan tempat yang aman dan nyaman (safe container) untuk proses konseling, mengembangkan hubungan kolaboratif (working alliance), mengumpulkan data, pengalaman konseli, dan keseluruhan gambaran kepribadiannya dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab pribadi konseli, membangun sebuah hubungan yang dialogis, membuat prioritas dan kesimpulan diagnosis terhadap konseli.
b.      Tahap Kedua (Clearing The Ground)
Pada tahap ini proses konseling berlanjut pada strategi-strategi yang lebih spesifik. Konselor mengeksplorasi berbagai introyeksi berbagai modifikasi kontak yang dilakukan dan unfinished business. Disini peran konselor adalah secara berkelanjutan mendorong dan membangkitkan keberanian konseli mengungkapkan eksperesi pengalaman dan emosi-emosinya dalam rangka meningkatkan kesadaranya, tanggung jawab pribadi dan memahami unfinished business.
c.        Tahap Ketiga (The Existensial Encounter)
Pada tahap ini ditandai dengan aktifitas yang dilakukan konseli dengan mengeksplorasi masalahnya secara mendalam dan membuat perubahan-perubahan secara signifikan. Tahap ini merupakan fase tersulit karena pada saat ini konseli menghadapi kecemasan-kecemasanya sendiri, ketidakpastian dan ketakutan-ketakutan yang selama ini terpendam dalam diri. Selain itu, konseli menghadapi perasaan terancam yang kuat disertai dengan perasaan kehilangan harapan untuk hidup yang lebih mapan. Pada fase ini konselor memberikan keyakinan ketika konseli cemas dan ragu-ragu menghadapi masalahnya.
d.      Tahap Keempat (Integration)
Pada tahap ini konseli sudah mulai dapat mengatasi krisis-krisis yang dieksplorasi sebelumnya dan mulai mengintegrasikan keseluruhan diri (self), pengalaman dan emosi-emosinya dalam perspektif yang baru. Konseli telah mampu menerima ketidakpastian, kecemasan dan ketakutannya serta menerima tanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Tahap ini terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut :
1)      Membentuk kembali pola-pola hidup dalam bimbingan pemahaman baru dan insigt baru
2)      Memfokuskan pada pembuatan kontak relasi yang memuaskan
3)      Berhubungan dengan masyarakat dan komunitas secara luas
4)      Menerima ketidakpastian dan kecemasan yang dapat menghasilkan makna-makna baru
5)      Menerima tanggung jawab untuk hidup baru
e.       Tahap Kelima (ending)
Pada tahap ini konseli siap untuk memulai kehidupan secara mandiri tanpa supervise konselor yang ditandai oleh proses-proses berikut : (1) berusaha untuk melakukan tindakan antisipasi akibat hubungan konseling yang telah selesai, (2) memberikan proses pembahasan kembali isu-isu yang ada, (3) merayakan apa yang telah dicapai, (4) menerima apa yang belum tercapai, (5) melakukan antisipasi, dan (6) perencanaan terhadap krisis dimasa depan, membiarkan pergi dan melanjutkan kehidupan.

2.      Teknik-Teknik Konseling
Teknik-teknik konseling Gestalt (Dalam buku Gerald Corey tahun 1995) yaitu:
a.       Permainan Dialog
Teknik ini dilakukan dengan cara konseli dikondisikan untuk mendialogkan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog (adil, menuntut dan berlaku sebagai majikan) dan kecenderungan under dog (korban, bersikap tidak berdaya, membela diri dan tak berkuasa) misalnya :
1)   Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak;
2)   Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh;
3)   Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”;
4)   Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung;
5)   Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.
Melalui dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt pada akhirnya konseli akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi dimana ia berani mengambil resiko. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.
b.      Latihan Saya Bertanggungjawab
Teknik ini dimaksudkan untuk membantu konseli agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta konseli untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian konseli menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat “...dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Misalnya :
1)   “Saya merasa jenuh dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu”
2)   “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”
3)   “Saya malas dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”
Menurut Gestalt, ini membantu meningkatkan kesadaran konseli akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.
c.       Bermain Proyeksi
Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada konseli untuk mencoba melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.
d.      Teknik Pembalikan
Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta konseli untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Misalnya, konselor memberi kesempatan kepada konseli untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi konseli pemalu yang berlebihan.
e.       Tetap dengan Perasaan
Teknik ini dapat digunakan untuk konseli yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Kebanyakan konseli ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong konseli untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan parasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong konseli untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

G.      KELEBIHAN DAN KELEMAHAN
1.      Kelebihan
1)      Terapi Gestalt menangani masa lampau dengan membawa aspek-aspek masa lampau yang relevan ke masa sekarang.
2)      Terapi Gestalt memberikan perhatian terhadap pesan-pesan non-verbal atau  pesan-pesan tubuh.
3)      Terapi Gestalt menolak mengakui ketidakberdayaan sebagai alasan untuk tidak berubah.
4)      Terapi Gestalt meletakkan penekanan pada konseli untuk menemukan makna dan penafsiran-penafsiran sendiri.
5)      Terapi Gestalt menggairahkan hubungan dan mengungkapkan perasaan langsung menghindari intelektualisasi abstrak tentang masalah konseli.
2.      Kelemahan
1)      Terapi Gestalt tidak berlandaskan pada suatu teori yang kukuh
2)      Terapi Gestalt cenderung anti intelektual dalam arti kurang memperhitungkan faktor-faktor kognitif.
3)      Terapi Gestalt menekankan tanggung jawab atas diri kita sendiri, tetapi mengabaikan tanggung jawab kita kepada orang lain.
4)      Para konseli sering bereaksi negatif terhadap sejumlah teknik Gestalt karena merasa dianggap tolol.

H.      DAFTAR PUSTAKA
Allaisyahsee.blogspot.co.id.2015. Konseling Gestalt. (diunduh pada 4 Mei 2017, pukul 19.56 WITA)
Corey, Gerald. 2007. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.
Gudnanto. 2012. Pendekatan Konseling. UMK. FKIP
Hartono, Soedarmadji Boy. 2012. Psikologi Konseling. Jakarta: Kencana Prenada Modra Group
Konseling indonesia baru.blogspot.co.id.2013. Pendekatan Gestalt.  (diunduh pada 4 Mei 2017, pukul 19.47 WITA)
Mapplare, Andi. 1992. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Subandi, M.A. Psikoterapi. Unit Publikasi Fakultas Psikologi. UGM: Pustaka Pelajar
Surya, Muhammad. 2003. Teori-Teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy
Taufik. 2009. Model-Model Konseling. Padang: BK FIP UNP \

                                      







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Profesi Guru

PROFESI GURU DEFINISI Guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang memiliki kemampuan berdasarkan lat...